Penyakit Ispa mendominasi penyakit akibat banjir

Drg. Burhanuddin Agung MM, Kasubdin Yankes&Gizi

Banjir telah melanda Riau sejak beberapa hari ini. Akibat banjir memberikan dampak negatif  baik berupa kerugian materil maupun timbulnya penyakit. Sampai tanggal 27 Maret 2008, Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Nafas Bag.Atas) mendominasi penyakit yang timbul akibat banjir sebanyak 351 kasus. Kemudian Penyakit kulit 268 kasus, Diare 182 kasus, malaria 39 kasus sedangkan penyakit lainnya 52 kasus. Adapun kecamatan yang terkena banjir sebanyak 36 kecamatan, 164 desa, 29.950 Kepala Keluarga atau 60.950 Jiwa. Sedangkan yang telah mengungsi 417 Kepala Keluarga atau 1.790 Jiwa ( lihat tabel )

banjir-280308.gif

Buffer stock yang ada di Dinas Kesehatan provinsi adalah PAC 8000 koli, Aqua tab 8000 tab. dan Kaporit 15 Kaleng.

Sumber data : Nelva Febriyanti SKM (Seksi KLB Dinas Kesehatan Provinsi Riau )

 

 

Oleh : Nurul Muna, SKM
Staf Seksi PKLB

Berdasarkan data dan laporan DBD yang berhasil dikumpulkan oleh Dinas Kesehatan sepanjang tahun 2007 ini (data terakhir tgl 3 Jan 2008) jumlah kasus DBD cenderung mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,yaitu pada tahun 2005 berjumlah 1897 kasus (IR = 42,2 per 100.000 penduduk), tahun 2006 berjumlah 948 kasus (IR = 21,3 per 100.000 penduduk), dan tahun 2007 berjumlah 759 kasus (IR = 17,6 per 100.000 penduduk). (Lihat Grafik 1)

 Grafik 1 

 graf11.jpg
 

 Pada tahun 2007, jumlah kasus terbanyak terjadi pada bulan februari dengan jumlah 160 kasus,   dan selanjutnya mengalami penurunan pada bulan-bulan berikutnya (Lihat Grafik 2).

Bulan yang seharusnya diwaspadai akan terjadinya puncak kasus DBD yaitu bulan Maret dan Oktober (Berdasarkan data 5 tahunan, lihat Grafik 3), justru tidak menunjukkan peningkatan jumlah kasus yang tinggi. Namun, Dinas Kesehatan tetap meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi kemungkinan terjadinya peningkatan kasus DBD sepanjang tahun 2007, terutama pada bulan “Kewaspadaan” dan bulan-bulan dengan tingkat curah hujan tinggi. Beberapa upaya/ Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan sepanjang tahun 2007 berupa :

  1. Penggerakan Peran Serta Masyarakat (PSM) dengan 3M Plus (Menguras, Mengubur, Menutup, Plus memakai kelambu, menyemprot nyamuk, dll) melalui seruan Gubernur Riau pada bulan sebelum bulan “Kewaspadaan”, yaitu Februari dan September
  2. Penyemprotan
  3. Larvasidasi

Grafik 2

graf2.jpg

Grafik 3

grafikdbdtiga.jpg

Bagaimana dengan Jumlah Kematian akibat DBD sepanjang tahun 2007 ?

Jumlah Kematian akibat DBD di Provinsi Riau pada tahun 2007 juga cenderung mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Terhitung pada tahun 2006 berjumlah 18 orang (CFR = 1,9 %) dan tahun 2007 berjumlah 13 orang (CFR = 1,7 %). Namun kondisi ini masih diatas indikator nasional CFR < 1 %.

Fantastis, kasus AIDS di Riau meningkat lebih dari 100 %

Oleh : Drg. Burhanuddin Agung, MM, Kasubdin Yankes & Gizi 

             Peningkatan kasus AIDS di Riau sudah sangat merisaukan, bagaimana tidak dalam dua tahun terakhir ini jumlah kasus yang ditemukan meningkat lebih 100 % yaitu dari 31 pada tahun 2006 menjadi 42 atau kumulatif 137 sampai bulan Oktober 2007.  Dengan adanya penemuan kasus ini berarti sebenarnya masih banyak kasus yang belum ditemukan. Hal ini oleh karena penemuan kasus ini hanyalah dari rumah sakit yang ada di Riau itupun belum semua rumah sakit yang melaporkan, sedangkan laporan dari puskesmas hanya 1 kasus saja. Dari 8 RS di 8 kabupaten kota yang melaporkan, kasus terbanyak masih didominasi di Pekan baru yaitu sebanyak 117 kasus. Berdasarkan kelompok umur maka ditemukan 67 % pada 25-34 tahun. Dalam penyebaran kasus ini pula ditemukan  86,9% pria lebih banyak dari wanita

.                Walaupun selama ini diperkirakan kasus ini paling banyak pada pekerja seks komersial (PSK)yang mempunyai pekerja berisiko tinggi, namun dari kenyataan yang ada bahwa dari 137 kasus tersebut, pekerjaan wiraswasta menduduki peringkat teratas yaitu 51 % (70 kasus). Faktor resiko masih didominasi akibat hubungan seksual : 67,9% walaupun secara nasional narkoba suntik sudah melebihi 55 %.

             Beberapa upaya yang telah dilaksanakan untuk mengendalikan kasus ini adalah Sosialisasi VCT, CUP 100 %, PMTCT, Pembangunan Klinik VCT di RS Arifin Achmad dan RS Jiwa Pekan Baru & KLinik IMS, Pelatihan tenaga Konselor, Pelatihan tenaga Case  Support Treatment, Pelatihan tenaga Monev, Penyusunan Perda tentang CUP 100 %,Pelatihan Peer  Educator bagi  Anak Sekolah, Pelatihan Peer bagi Guru SLTP & SLTA, Sero Survei pada populasi berisiko ( WPS langsung, NAPI / pengguna Napza suntik ), Lomba Kondom Ceria pada kelompok Waria, Parade Musik berkaitan dengan AIDS, Peningkatan KIE melalui Media Cetak dan Media Elektronik, Pelatihan Universal  Precaution, Dialog Interaktif di RTV, Pendampingan pada populasi berisiko, Konseling, Testing, Pengobatan ARV, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Bayi dan Ibu Hamil, Penyusunan PERDA tentang Pengaturan Tempat-tempat Hiburan

            Sedangkan upaya-upaya yang sedang dan akan dilaksanakan yaitu : Pelatihan-pelatihan ( RTC ), Pelatihan Lay Konselor, Pelatihan Universal  Precaution ( UP ), Sosialisasi  tentang  Program Penanggulangan HIV/AIDS bagi Dokter / Paramedis di RS & Puskesmas, Pelayanan VCT, PMTCT, Klinik  IMS, Pendampingan  terhadap  ODHA, Pengobatan  ARV, Pemberian Makanan Tambahan ( PMT ) pada Bayi & Bumil, Implementasi  Perda, Distribusi  Kondom  kepada  Populasi  WPS dan diluar Lokasi

             Walaupun telah dilakukan upaya-upaya penanggulangan, namun masih ada beberapa kendala yaitu : Penderita AIDS yang diobati umumnya sudah berada pada Stadium III dan IV sehingga kondisinya sudah sulit untuk diobati, Obat Infeksi Oportunistik ( OI ) sejak terbakarnya gudang obat RSUD Arifin Akhmad Pekanbaru belum mendapat dropping  dari  Pusat, hal ini menjadi kesulitan dalam pengobatan AIDS, Biaya untuk peningkatan gizi bagi penderita AIDS masih sangat MINIM, sementara  sebagian  dari  penderita berasal dari masyarakat ekonomi lemah, Penyebaran HIV tidak lagi hanya pada kelompok populasi berisiko saja, namun sudah terpapar pada kelompok berisiko rendah, HIV  sudah terpapar pada kelompok IBU HAMIL

             Tema hari AIDS sedunia tahun ini, adalah KEPEMIMPINAN dimana sangat diharapkan para pemimpin dan pengambil keputusan untuk menepati janji-jani mereka untuk AIDS termasuk provisi akses universal untuk layanan pengobatan, perawatan, dukungan dan pencegahan. Dan untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA), diperlukan suatu kepemimpinan untuk minimal bisa memperjuangkan hak terbebas dari diskriminasi, hidup layaknya seperti masyarakat lainnya, serta  dapat membantu semua orang untuk dapat menyebarluaskan dan terhindar dari penyakit ini.

Grafik data sebagai berikut :  

aids2007.gif

aids-2007b.gif

aids-2007c.gif

aids-2007d.gif

        

oleh :
Dr. Dian Triana Sinulingga
Staf Seksi Surveilans Epidemiologi

Sehubungan dengan laporan adanya peningkatan kasus Avian Influenza yang terus menerus baik pada ungggas maupun pada manusia bahkan mulai meresahkan masyarakat, maka mendesak segera dilakukan review situasi penyakit tersebut. Oleh karena itu pertemuan antara Pusat, Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dan Dinas Peternakan Provinsi/Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit Kabupaten/Kota dan rujukan se-Provinsi Riau sangat perlu dilaksanakan dalam rangka mendiskusikan situasi terkini Avian Influenza, meliputi situasi epidemiologi, virologi dan kegiatan pengendalian yang telah dilakukan selama ini serta diharapkan pertemuan tersebut dapat menghasilkan rumusan langkah-langkah kongkrit dalam pengendalian Avin Influenza baik pada unggas maupun pada manusia, khususnya dalam hal surveilans epidemiologi dan virologi, deteksi dini dan manajemen kasus, komunikasi risiko termasuk KIE.

Tujuan

  1. Untuk menganalisa situasi Avian Influenza (AI) pada unggas dan manusia di Provinsi Riau
    1. Apakah terjadinya peningkatan KLB AI pada unggas yang memicu terjadinya peningkatan kejadian kasus AI pada manusia?
    2. Apakah disebabkan karena peningkatan penemuan kasus (peningkatan kegiatan surveilans dan deteksi kasus yang makin intensif)
  2. Untuk mengembangkan kegiatan yang konkrit dalam pengendalian AI baik pada unggas maupun manusia, antara lain meliputi:
    1. Surveilans epidemiologi (pada unggas, manusia, dan terintegrasi)
    2. Deteksi dini dan manajemen kasus di fasilitas kesehatan
    3. Poultry respons and activities
    4. Komunikasi risiko dan KIE

Waktu Pelaksanaan
Tanggal 26-29 November 2007

Tempat
Hotel Pangeran Pekanbaru, Jl. Sudirman No 373, Pekanbaru, Riau.
Telp. (0761) 853636
Fax. (0761) 853232

Peserta

  1. Ditjen PP & PL, Departemen Kesehatan (9 orang)
    1. Direktur Jenderal PP & PL
    2. Direktur P2B2
    3. Subdit Surveilans
    4. Subdit Zoonosis
  2. Kepala Puslitbangkes Biomedis dan Farmasi, Badan Litbangkes, Depkes RI
  3. Ditjen Peternakan, Departemen Pertanian (4 orang)
    1. Direktur Keswan
    2. CMU
      1. Drh. Zulkarnaen Hasan
      2. Drh. Muhammad Azhar
      3. Drh. Didin Sudiana
  4. BPPV wilayah II Bukittinggi (Drh. Yuli Maswati)
  5. Dinas Kesehatan Provinsi (7 orang)
    1. Kasubdin Yankes dan Gizi
    2. Kepala Seksi Surveilans
    3. Kepala Seksi Promosi Kesehatan
    4. Penanggung jawab program AI Provinsi Riau
    5. Kepala Labkesda Provinsi Riau
    6. Panitia lokal (2 orang)
  6. Dinas Peternakan Provinsi Riau (5 rang)
    1. Kasubdin Keswan, Dinas Peternakan Provinsi Riau
    2. Kepala Seksi P3H, Provinsi Riau
    3. Kepala Balai Karantina Hewan (SSK II), Provinsi Riau
    4. Kepala Balai Laboratorium dan Klinik Hewan, Provinsi Riau
    5. Panitia lokal
  7. Kepala KKP Pekan Baru Provinsi Riau
  8. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (11 orang)
  9. RSUD Kabupaten/Kota (11 orang)
  10. Dinas Peternakan Kabupaten/Kota (11 orang)
  11. Puskeswan Kabupaten/Kota (11 orang)
  12. FAO Indonesia (3 orang)
  13. WHO Indonesia (3 orang)
  14. RS Swasta di Provinsi Riau

Biaya
Dibebankan pada WHO Indonesia

 

 

RUMUSAN DAN REKOMENDASI
HASIL PERTEMUAN REVIEW SITUASI AVIAN INFLUENZA DI RIAU

PEKANBARU, 27-28 NOVEMBER 2007

Pertemuan Review Situasi AI yang difasilitasi oleh Depkes RI dan WHO Indonesia telah dilaksanakan di Pekanbaru pada tanggal 27 – 28 November 2007. Pertemuan ini dihadiri oleh 78 peserta dari Depkes (Ditjen PP-PL, Balitbangkes), Deptan RI ( Direketorat Kesehatan Hewan, BPPV Wilayah II Bukittinggi), Dinkes Provinsi Riau, Dinas Peternakan Provinsi Riau, RSUD Arifin Achmad, RSUD dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota se-Provinsi Riau, Dinas Peternakan dan Puskeswan Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau, FAO dan WHO Indonesia.

Sesuai arahan Bapak Asisten II Pemda Provinsi Riau dan presentasi dari Direktorat PPBB, Direktorat Kesehatan Hewan, Balitbangkes, BPPV wilayah II Bukittinggi, Dinkes Provinsi Riau dan Disnak Provinsi Riau, Pengalaman Penatalaksanaan Kasus di RS Rujukan Arifin Achmad Pekanbaru serta hasil diskusi kelompok seluruh peserta pertemuan, maka dirumuskan hal-hal sebagai berikut:

  1. Penyakit Avian Influenza (AI) merupakan masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Riau dan mulai meresahkan masyarakat dengan meningkatnya jumlah kasus/kematian secara signifikan pada manusia dalam 6 bulan terakhir ini, sehingga perlu peningkatan perhatian dari seluruh komponen terkait dalam upaya pengendaliannya.
  2. Hingga saat ini (28 November 2007) penyebaran AI pada unggas di Provinsi Riau mencakup seluruh (11) kabupaten/kota, 58 kecamatan, 133 desa/kelurahan dengan jumlah kasus kematian unggas 47.770 ekor, terdiri dari 610 ekor tahun 2005, 31.501 ekor tahun 2006 dan 15.659 ekor tahun 2007. Penyebaran AI pada unggas tersebut antara lain disebabkan oleh tingginya lalu lintas ternak unggas, produk dan limbah dari unggas antar kabupaten/kota dan provinsi.
  3. Permasalahan dalam pengendalian AI pada unggas di Provinsi Riau, antara lain:
    1. Penyebaran AI mencakup wilayah yang sangat luas, sehingga dalam melaksanakan surveilans dan penelusuran penyakit AI diperlukan tenaga medis dan paramedis veteriner yang terampil dengan jumlah yang memadai baik di laboratorium, lapangan maupun puskeswan.
    2. Penyebaran AI sudah ke tingkat sektor-4 (backyard farm), yaitu unggas peliharaan di perumahan, sehingga menyulitkan dalam pengendaliannya.
    3. Keragaman struktur organisasi di Kabupaten/kota seringkali menghambat pelaporan kejadian AI pada unggas, sehingga penyakit sudah menyebar sebelum dilakukan tindakan pengendalian yang optimal.
    4. Belum optimalnya pengawasan/penjagaan lalu lintas unggas di pos-pos pemeriksaan di daerah perbatasan (check point) antar kabupaten/kota bahkan provinsi dan di pintu masuk (entry point) karantina hewan.
    5. Sangat terbatasnya dukungan dana dalam pelaksanaan kegiatan operasional AI khususnya di provinsi dan kabupaten/kota.
  4. Kasus AI pada manusia telah tersebar di 4 kabupaten/kota (Kampar, Pekanbaru, Indragiri Hulu, dan Bengkalis) dengan jumlah 6 kasus dan 5 kematian (CFR=83,3%). Semua kasus AI (konfirmasi) terjadi pada tahun 2007, sedangkan pada tahun 2005 dan 2006 hanya dilaporkan kasus suspek berturut-turut 2 dan 6 kasus. Faktor risiko terjadinya AI pada manusia adalah kontak langsung dengan unggas sakit/mati (50%), kontak tidak langsung/lingkungan (33%) dan yang tidak diketahui (17%).
  5. Perkembangan kasus AI pada manusia di Provinsi Riau berlangsung sangat cepat dengan angka kematian yang sangat tinggi. Keterlambatan diagnosis dan rujukan kasus AI ke rumah sakit (rata-rata 5,6 hari) menyebabkan keterlambatan pemebrian obat antiviral (oseltamivir). Keterlambatan tersebut karena gejala awal AI yang sangat umum, sehingga sangat sulit diidentifikasi disamping masih kurangnya sosialisasi ke seluruh rumah sakit swasta dan balai pengobatan, sehingga para petugas kesehatan kurang waspada (kurang mengarahkan pemeriksaan klinis) terhadap kemungkinan AI pada pasien yang menunjukkan gejala Influenza Like Illness (ILI).
  6. Hingga saat ini pemeriksaan RT-PCR sudah dapat dioperasikan di Labkesda Provinsi Riau, tetapi konfirmasi hasil pemeriksaan masih harus dilakukan laboratorium rujukan nasional di Jakarta, sehingga memerlukan waktu yang lebih lama dalam penegakan diagnosis pasti AI.
  7. Belum semua petugas laboratorium RSUD memiliki ketrampilan yang memadai dalam pengambilan spesimen pasien suspek AI terutama swab hidung dan tenggorok.
  8. Ketersediaan alat pelindung diri (APD) masih belum merata di seluruh puskesmas di Provinsi Riau.
  9. Pada umumnya masyarakat di Provinsi Riau sudah mengetahui tentang flu burung tetapi masih kurang peduli dan berperan aktif dalam pencegahan dan penanggulangan AI.

Rekomendasi :

  1. Komitmen pemerintah daerah dan berbagai mitra potensial di masyarakat yang konsisten sangat diperlukan dalam berbagai kegiatan program pengendalian AI baik pada hewan maupun pada manusia mulai dari penyediaan anggaran operasional, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan tindak lanjut.
  2. Perlu upaya untuk mempercepat terbitnya Peraturan Daerah tentang Pencegahan dan Penanggulangan AI di provinsi Riau sekaligus sebagai payung hukum untuk penegakan aturan dalam rangka pencegahan dan pengendalian AI.
  3. Perlu rekruitmen dokter hewan dan paramedis veteriner untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia terutama di dinas peternakan kabupaten/kota, laboratorium dan Puskeswan.
  4. Perlu meningkatkan surveilans dan tindakan pengendalian AI pada lokasi backyard farm (sektor-4) termasuk kajian terhadap unggas air dan burung liar sebagai penularan AI.
  5. Perlu memperketat pengawasan lalu lintas unggas, produk dan limbahnya antar kabupaten/kota dan provinsi pada pos-pos pemeriksaan di daerah perbatasan terhadap kelengkapan SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan) dari daerah asal.
  6. Perlu meningkatkan pelaksanaan 9 langkah strategi pengendalian AI pada unggas termasuk diantaranya restrukturisasi peternakan unggas, terutama tata ruang peternakan unggas komersial dan penataan pemeliharaan unggas di pemukiman.
  7. Pelaksanaan kewaspadaan dini kasus flu burung di Provinsi Riau, perlu diintensifkan dengan memperkuat kapasitas dan jejaring surveilans terintegrasi, yang diperlukan untuk deteksi sedini mungkin terjadinya penularan antar manusia (adanya sinyal epidemiologi), melalui keterpaduan Tim Gerak Cepat Kejadian Luar Biasa (TGC KLB) dan DSO Dinas Kesehatan dengan PDS (Participatory Disesase Surveilance) dan PDR (Participatory Disease Response) Dinas Peternakan/Pertanian.
  8. Perlu pelatihan bagi dokter dan paramedis di rumah sakit swasta dan puskesmas dalam surveilans dan penatalaksanaan kasus AI, untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mendeteksi dini dan pemberian obat antiviral pada kasus tersangka AI.
  9. Untuk deteksi dini kasus AI (sesuai hasil kesepakatan dan rekomendasi pertemuan case management Avian Influenza di Bandung tanggal 1-3 Oktober 2007:
    1. Perlu digalakkan active case finding/surveilance investigation AI di tempat/daerah dengan unggas yang sakit/mati yang disebabkan virus H5N1 oleh petugas kesehatan di puskesmas dan aparat desa.
    2. Setiap pasien dengan gejala flu (sekurang-kurang dengan gejala demam) wajib ditanya riwayat kontak dengan unggas.
    3. Sistem skoring pemberian oseltamivir tidak digunakan lagi.
  10. Perlu dilakukan uji coba penerapan defenisi kasus tersangka pra rumah sakit yang sederhana dan pemberian obat antiviral di Provinsi Riau sesuai dengan algoritme terlampir (berdasarkan hasil kesepakatan dan rekomendasi pertemuan case management Avian Influenza di Bandung tanggal 1-3 Oktober 2007) yang difasilitasi oleh Ditjen PP-PL, Depkes dan WHO Indonesia.
  11. Perlu intensifikasi surveilans terpadu antara jajaran peternakan dan kesehatan dan sharing informasi, termasuk kajian dinamika virus pada unggas maupun pada manusia. Kajian ini sangat diperlukan dalam analisa epidemiologis untuk mengetahui apakah penularan terjadi dari unggas kepada manusia atau telah terjadi mutasi atau perubahan genetis virus H5N1.
  12. Perlu dilakukan peningkatan sosialisasi AI kepada petugas kesehatan di seluruh RS swasta dan Balai Pengobatan dengan melibatkan RS rujukan dan organisasi profesi.
  13. Perlu koordinasi segera dengan Balitbangkes, Depkes RI dalam mempercepat berfungsinya Labkesda dalam pemeriksaan RT-PCR dan peningkatan kemampuan petugas laboratorium dalam pengambilan spesimen AI terutama swab hidung dan tenggorok.
  14. Perlu koordinasi segera dengan Ditjen PP-PL dan Ditjen Yanfar dalam pemenuhan ketersediaan alat pelindung diri dan obat antiviral di seluruh Puskesmas di Provinsi Riau.
  15. Perlu dibangun sistem komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) di provinsi Riau yang dapat diakses secara cepat oleh pihak terkait.
  16. Perlu sosialisasi/penyuluhan terpadu kepada masyarakat dalam penanggulangan Flu Burung dengan menggunakan bahasa dan budaya daerah setempat, serta membangun kemitraan dengan media massa (wartawan) dengan memberikan informasi secara terbuka, terpercaya tentang keadaan sebenarnya dan berlanjut (komunikasi resiko).
  17. Perlu ditingkatkan public awarennes/sosialisasi secara rutin dan berkesinambungna untuk meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam pengendalian AI di Provinsi Riau dengan memanfaatkan seluruh potensi masyarakat sesuai situasi daerah setempat (local area specific).

Hasil pertemuan ini perlu segera disampaikan kepada para pengambil keputusan lebih lanjut.

Pekanbaru, 28 November 2008
Peserta Pertemuan

Oleh
Nurul Muna, SKM
Staf Sie PKLB Dinas Kesehatan Provinsi Riau

Penyakit Demam Berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever merupakan penyakit yang disebabkan oleh Virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, kecuali pada dataran tinggi lebih dari 1000 m di atas permukaan laut.Sejak pertama ditemukan penyakit DBD di Indonesia (Surabaya dan Jakarta) pada tahun 1968, jumlah kasus cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas, sehingga pada tahun 1994 DBD telah tersebar ke seluruh propinsi di Indonesia. Kejadian luar biasa (KLB)/ wabah masih sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Di Propinsi Riau, berdasarkan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue tahun 2002 s.d September 2007 mengalami peningkatan kasus pada Tahun   2005   sebanyak   1897   kasus , dan tahun 2006 dan Sept 2007 mengalami penurunan kasus hingga 50 %. (Lihat Grafik 1) grafjlhdbd.gif

Trend menjangkitnya penyakit DBD di Provinsi Riau berdasarkan data rata-rata  5 tahunan 2002 s.d 2006 (Lihat Grafik 2) menunjukkan kenaikan kasus yang cukup tinggi pada bulan Maret, bulan Mei, bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober.Sehingga pada bulan Februari, April, dan Juli merupakan bulan meningkatkan kewapadaan dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui 3M Plus.  Grafik 2 

grafrata2.gif  Selama tahun 2007, jika dibandingkan dengan jumlah kasus tahun 2006, kasus DBD di provinsi Riau mengalami peningkatan pada awal-awal tahun   yaitu pada   bulan Januari s.d Mei. Dan   selanjutnya   mengalami  penurunan  jumlah kasus   pada   bulan-bulan berikutnya  (update data 21 sept 2007).   Lihat Grafik 3grafjlhkasus.gif

Upaya Penanggulangan 

Upaya penanggulangan penyakit DBD yang sampai saat ini  telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau berupa kegiatan :

  1. Penyemprotan
  2. Larvasidasi
  3.  POKJANAL DBD
  4.  Pelatihan SDM
  5. Penggerakan Persan Serta Masyarakat (PSM) dengan 3M Plus (Menguras, Mengubur, Menutup, Plus memakai kelambu, menyemprot nyamuk, dll)

Chikungunya Menyerang Pekanbaru Lagi

Oleh : Drg. Burhanuddin Agung, MM, Kasubdin Yankes&Gizi 

Chikungunya ditemukan lagi di Pekanbaru. Pada tanggal 24 Oktober 2007,Dinkes Provinsi Riau menerima laporan W1 KLB Suspek Chikungunya di Kelurahan Delima Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru. Dari investigasi dilaporkan bahwa tanggal 24 Oktober 2007 terdapat 30 penderita dan pada tanggal 25 Oktober 2007 dilaporkan 80 kasus. Tim investigasi telah mengambil 8 sampel yang akan dikirimkan ke Balitbang DEPKES RI. Tim juga menemukan 5 rumah positif Aedes aegypti dari 15 rumah yang diperiksa. Dinkes telah melakukan penyuluhan, pengobatan massal, membuka posko, fogging dan abatisasi serta bersama masyarakat dan aparat daerah melakukan 3M. Fogging akan dilakukan 2 kali berselang seminggu. Kasus Chikungunya di Provinsi Riau pertama sekali dilaporkan di Kelurangan Tangkerang Selatan, Kecamatan Simpang Tiga Kota Pekanbaru pada bulan Mei 2007 dengan penderita sebanyak 44 orang. Dari 5 spesimen yang diambil dan dikirim ke Balitbang DEPKES RI, diperiksa 3 sampel dan satu diantaranya positif Chikungunya Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Ada juga literatur yang menyatakan bahwa penyakit ini dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus. Virus ini digolongkan pada keluarga Togaviridae, genus alphavirus. Pada umumnya virus ini menyerang kawasan tropis Asia dan Afrika. Sejak mulai teridentifikasi pada tahun 1952, epidemic ini terus berkembang hingga akhirnya menyebar di wilayah Indonesia. Demam chikungunya pertama kali terjadi di Samarinda tahun 1973. Kemudian berjangkit lagi pada tahun 1980, kali ini menyerang wilayah Jambi. Tahun 1983, chikungunya terjadi di Martapura, Ternate, dan Yogyakarta. Demam ini kemudian vakum selama lebih kurang 20 tahun hingga merebak besar-besaran pada tahun 2001 di Muara Enim, Sumatera Selatan. Setelah itu, demam ini seakan sudah populer di kawasan nusantara. Kata chikungunya berasal dari Swahili yang berarti ”yang berubah bentuk atau bungkuk”. Nama ini mengacu kepada postur tubuh penderita demam chikungunya, yang membungkuk, akibat nyeri sendi.  Gejala demam chikungunya tidak jauh berbeda dengan gejala Demam Berdarah Dengue (DBD). Kedua penyakit ini, Chikungunya dan DBD, sama-sama disebabkan oleh virus yang dibawa lewat gigitan nyamuk aedes. 

Chikungunya ini tergolong unik, pertama sekali terjadi demam tinggi disertai menggigil yang mirip gejala influensa. Lalu disertai mual-muntah, sakit kepala dan sakit perut. Dalam 4 hari rasa nyeri dan ngilu mulai terasa di tulang kaki. Setelah itu di sekujur tubuh penderita timbul bercak-bercak merah. Pada tahap berikutnya, penderita akan mengalami kelumpuhan pada tangan dan kaki. Namun, kelumpuhan ini tidak berlansung lama. Penderita akan segera sembuh dalam beberapa hari saja. Meskipun mirip dengan demam berdarah dengue, demam chikungunya tidak mengakibatkan perdarahan hebat, renjatan (shock), ataupun kematian. Masa inkubasi chikungunya adalah 2 sampai 4 hari. Manifestasi penyakit berlangsung 3 sampai 10 hari. Virus ini termasuk self limiting disease yang artinya hilang dengan sendirinya. Namun rasa nyeri dan sakit masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan. Dalam prakteknya, tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Penyakit ini hanya bisa dicegah. Diantaranya yaitu penghentian perkembangbiakan nyamuk dengan menggalakkan 3M (menutup saluran air, menguras penampungan air, mirip dengan pencegahan terhadap demam berdarah dengue (DBD).

Pemberantasan terhadap nyamuk ini harus dilaksanakan secara rutin dan berkala, karena berdasarkanberdasarkan penelitian dalam 10 hari sekali ratusan jentik berubah menjadi nyamuk. Jentik-jentik itu apabila dibiarkan akan berkembang pesat hingga membahayakan kehidupan manusia.

Gz dari Siak Negatif Flu Burung

Oleh : Dr. Dian Triana, Sie Surveilans Epidemiologi 

Berdasarkan pemeriksaan Balitbangkes terhadap sample swab dan serum An. Gozi asal Siak, pada tanggal 23 Oktober 2007 didapatkan hasil negatif H5. Keadaan ini berarti bahwa sampai saat ini kasus Konfirmasi Flu Burung di Provinsi Riau ada 5 kasus setelah pada tanggal 7 Oktober 2007 yang yang lalu, Ny L asal Pekanbaru positif H5.

Berikut situasi Flu Burung di Provinsi Riau sejak tahun 2005 hingga saat ini

No

Kab/Kota Jlh Suspek Jlh Konfirmasi Konfirmasimeninggal
1 Dumai 7    
2 Rokan Hilir 6    
3 Rokan Hulu 4    
4 Pekanbaru 8 3 2
5 Kampar 3 1 1
6 Indragiri Hulu 1 1 1
7 Kuansing 2    
8 Bengkalis 2    
9 Siak 2    
  Total 35 5 4

Kasus suspek pada tahun 2004 berjumlah 2 orang, tahun 2005 berjumlah 6 orang. Pada tahun 2007 hingga saat ini telah dilaporkan 29 kasus suspek dan 5 diantaranya konfirmasi Flu Burung. Menurut Kasubdin Yankes & Gizi, Drg. H. Burhanuddin A,MM, ini menunjukkan telah meningkatnya kewaspadaan terhadap Flu Burung di Riau. Tetapi, mengingat bahwa sampai saat ini penularan baru dari unggas ke manusia, angka kematiannya sangat tinggi (80%), gejala awal sangat umum dan obat antivirusnya hanya efektif dalam 2 x 24 jam sejak demam maka penanggulangan penyakit ini akan maksimal jika dapat menghindari penularan dari unggas ke manusia dan deteksi dini kasus. Untuk itu dihimbau agar masyarakat segera :

  1. Melaporkan setiap kematian unggas yang mendadak kepada Lurah dan Puskesmas terdekat karena Puskesmas akan memantau kesehatan masyarakat di daerah tersebut.
  2. Melaporkan segera ke Puskesmas setiap demam yang muncul dalam 7 hari setelah kontak dengan unggas yang mati, sakit atau produknya atau di daerah tersebut terdapat kematian unggas.
  3. Menghindari kontak langsung dengan unggas sakit / mati.
  4. Mencuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan sabun.

Bagi petugas kesehatan di Provinsi Riau, Kasubdin mengharapkan agar lebih tanggap terhadap penyakit ini sehingga dalam 1 x 24 jam segera melaporkannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dan melakukan tatalaksana sesuai Protap yang telah ada.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.